Arti Tawadhu dan Keutamaannya (Penjelasan LENGKAP)

Arti Tawadhu – Saling menjaga dan menghargai perasaan antar sesama serta menjaga sopan santun kepada semua orang merupakan contoh dari sikap tawadhu.

Merasa sombong dan memiliki segalanya sehingga tak menghargai orang lain adalah sikap yang bertentang dengan arti tawadhu.

Pernahkah kamu merasa paling pintar dibandingkan teman-teman sekelasmu? Atau di tempat kerja kamu bersifat angkuh lantasan terpilih menjadi karyawan terbaik tahun ini?

Hati-hati, mungkin hatimu sedang terkena penyakit takabur alias sombong.

Sikap-sikap yang akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam lubang hitam.

Orang yang takabur hidupnya selalu dikejar-kejar ambisi yang tak ada ujungnya, sehingga ia tidak merasa puas dan bersyukur.

Sebaliknya orang yang senantiasa tawadhu hidupnya selalu berkah dan tentram.

Orang yang memiliki sifat tawadhu termasuk ke dalam orang yang mulia, karena sifat ini sangat dicintai oleh Allah SWT.


Penjelasan Arti Tawadhu


islam.nu.or.id

Arti tawadhu ( التّواضع) secara bahasa yaitu “ketundukan” atau “rendah hati” dengan asal kata Tawadha’atil Ardhu’, artinya ‘Tanah itu lebih rendah daripada tanah yang ada di sekelilingnya’.

Kalimat ini memiliki makna merasa diri tidak lebih dari siapapun di hadapan Allah SWT.

Sedangkan menurut istilah arti tawadhu adalah sifat tunduk kepada kebenaran dan menerima kebenaran tersebut dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka.

Artinya tak memandang pangkat siapapun yang menyampaikan kebenaran tersebut, sekalipun dalam keadaan marah.

Pada kesimpulannya sikap tawadhu mencerminkan perilaku rendah hati, tidak sombong terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.

Lebih khusus lagi tidak pernah berburuk sangka kepada Allah SWT.

Jika ingin melihat karakter seorang mukmin sejati, maka dapat dilihat dari perilaku sehari-harinya.

Jika ia senantiasa tawadhu kepada siapapun itu tanpa memandang gelar, ilmu, maupun harta maka dipastikan ia adalah manusia yang mulia di sisi Allah.

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. As-Syu’ara: 215).

Tawadhu juga merupakan adalah akhlak paling mulia yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul.

Karena sifat tawadhu menjadi pangkal dari kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan saat menerima segala ketetapan dari Allah.

Kebalikan dari sifat tawadhu adalah takabur atau sombong.

Sifat ini sangat dibenci oleh Allah dan Rasul, bahkan orang yang takabur hidupnya cenderung tidak selamat.

Allah melarang setiap makhluk yang ada di muka bumi untuk bersikap sombong, seperti dalam firman-Nya:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).


Keutamaan Memiliki Sifat Tawadhu


Arti Tawadhu
mahad-assalafy.com

Jangan pernah merasa rendah disaat kamu mengalah pada setiap pertikaian.

Karena sejatinya mengalah bukan berarti kalah namun berdamai dengan keadaan.

Begitulah definisi tawadhu versi bahasa anak modern zaman now.

Disamping memberikan ketenangan bagi diri sendiri sikap tawadhu akan meningkatkan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Lebih jelasnya berikut kita bahas beberapa keutamaan sifat tawadhu di dunia dan akhirat:

1. Memperoleh derajat kemuliaan di sisi Allah

Kemuliaan di dunia dan di akhirat dapat kita raih dengan mudah, cukup dengan mengamalkan sikap tawadhu sepanjang hidup.

Jangan pernah angkuh, sombong, congak kepada sesama. Karena rendah diri karena Allah adalah setinggi-tingginya derajat.

Derajat mulia mencakup segala kebaikan di dunia dan di akhirat nanti.

Oleh karena itu mari berlomba-lomba mendapatkan tempat yang mulia di akhirat nanti dengan menjaga sifat tawadhu kepada sesama.

2. Akhlak mulia para Nabi dan Rasul

Setiap Nabi dan Rasul diperintahkan oleh Allah untuk mempunyai sifat tawadhu dan tidak boleh menyombongkan diri.

Sifat ini terus dicontohkan oleh Nabi terdahulu hingga Baginda Rasul Muhammad SAW.

Dengan sifat tawadhu para Nabi dan Rasul berdakwah kepada umatnya dengan membawa kedamaian.

Sehingga Allah menetapkan tawadhu sebagai akhlak mulia yang patut diteladani oleh seluruh umat.

Tawadhu menjadi kunci kehidupan yang damai, sejahtera, dan barokah.

Sebagai contoh kisah Nabi Musa AS bersedia melakukan pekerjaan rendahan asalkan halal.

Meskipun seorang Nabi, Beliau tidak enggan membantu memberi minum kepada hewan ternak milik dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta.

Adapun sifat tawadhu Nabi Isa AS tercantum dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 32:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

Artinya: “dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Sifat tawadhu yang dimiliki Nabi Muhammad SAW salah satu nya yaitu Beliau tidak senang dipuji dan disanjung secara berlebihan.

Karena bagi Beliau dirinya hanyalah salah seorang hamba Allah, bahkan saat di rumah, beliau selalu membantu pekerjaan istrinya dan tak pernah sombong atau berbangga diri.

Tabiat-tabiat rendah hati inilah yang menjadikan para Nabi dan Rasul diangkat derajatnya di sisi Allah.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita sanggup meneladani Beliau?

Sebagai mukmin yang sholeh sudah tentunya kita harus terus berusaha menjadi hamba Allah yang lebih baik setiap harinya.

Baca juga: Sifat Wajib, Mustahil, dan Sifat Jaiz Para Rasul

3. Meningkatkan kasih sayang

Selain mulia di hadapan Allah SWT, sikap tawadhu juga dapat meningkatkan kasih sayang antar sesama manusia dan yang lainnya.

Siapa yang tak akan senang dengan orang yang rendah hati dan selalu bersikap santun kepada sesama.

Terbukti pada diri Nabi Muhammad, beliau dicintai oleh umatnya meskipun kini telah tiada.

Sholawat serta salam tak henti-hentinya tercurahkan dari mereka yang senantiasa rindu kepada beliau.

Semoga rasa cinta dan rindu kita kepada Rasulullah dapat mempertemukan kita dengan beliau di surga nanti.

Tawadhu juga dapat mempererat kedekatan antar kita, karena ikatan ukhuwah Islamiyah tentunya.

Kita semua memahami bahwa dalam keluarga dan kehidupan manapun ketika tidak ada kesombongan akan menjadikan hubungan yang lebih nyaman dan lebih baik.

4. Menghapus perbedaan

Sudah sangat jelas bahwa orang yang tawadhu merupakan orang yang berkenan bergaul dengan semua orang tanpa rasa sombong atau tanpa rasa dia lebih baik dari orang yang ada di sekitarnya.

Meskipun begitu secara otomatis ia akan dihormati oleh sekelilingnya.

Karena rasa hormat nya kepada orang lain menjadikan ia juga dihormati juga oleh orang lain.

Menjaga pertemanan dan hubungan bertetangga tentu akan menghapus perbedaan di antara kita.

Dan ini akan berujung memperbanyak kawan, relasi, dan kerabat.

Namun terkadang salah memilih teman dan pergaulan membuat seorang lupa akan dirinya.

Kerap kali sikap tinggi hati muncul saat pergaulan yang kita temui tidak sesuai dengan derajat kekayaan maupun pendidikan kita.

Maka dari itu teruslah menanamkan sikap tawadhu di hati kita.

Karena hati manusia sifat nya berubah-ubah, terkadang khilaf dan tak sengaja menyinggung perasaan orang lain.

Dengan mengingat sifat tawadhu, maka Insya Allah perlahan-lahan kita bisa meneladani kemuliaan para Nabi.

5. Jauh dari laknat Allah SWT

Hal ini bermula dari sebuah hadits yang menyatakan orang sombong lagi bermaksiat akan mendapat laknat Allah.

Kebalikannya, jika kita senantiasa rendah hati dan selalu berusaha menyenangkan orang lain maka kita akan dijauhkan dari laknat Allah SWT.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya
Siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa iblis itu bermaksiat karena sombong (takabur), lantas Allah pun melaknatnya.”

Sesungguhnya makhluk Tuhan yang paling takabur adalah iblis dan syaithan.

Mereka pada akhirnya akan menjadi penghuni neraka dan kekal disana.

Namun ia berjanji akan terus menggoda anak manusia agar ikut terjerumus ke dalam neraka jahanam.

Maka dari itu selama hidup di dunia, isi hari-hari dengan perbuatan baik.

Banyak-banyaklah berdzikir dan berdoa agar kita senantiasa dilindungi oleh Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.

Sifat sombong dan takabur merupakan salah satu sifat syaithan yang bahkan ingkar kepada Allah.

Jika tak ingin menjadi bagian dari mereka, maka bersabarlah dengan segala godaan duniawi yang ada.

Ingat selalu Allah dimanapun kamu berada. Jangan pernah izinkan godaan syaithan masuk dan menutup pintu hatimu dari hidayah-Nya.


Itulah bahasan mengenai arti tawadhu beserta keutamaannya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Leave a Comment