SIfat-Sifat Rasul

Penjelasan Lengkap Sifat Rasul (Wajib, Mustahil, dan Jaiz)

Sifat Rasul – Agama Islam telah mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk masalah kepemimpinan.

Dengan cermat Islam menetapkan pemimpin yang akan menjadi teladan dalam hal menyuburkan dan membangun kepribadian muslim, yakni Nabi dan Rasul Allah SWT.

Rasul memiliki sifat-sifat yang melekat pada dirinya sebagai bukti pembenaran bahwa ia adalah utusan Allah SWT.

Sebagaimana kita ketahui Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber akidah, di dalamnya terdapat dalil naqli yang menceritakan atau menjelaskan sifat-sifat nabi.

Meski begitu, untuk memahami itu semua tetap membutuhkan penalaran akal sehat, yang dalam konteks ini dikenal hukum ‘aqli yang ada tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz ‘aqli.

Khususnya bagi orang yang sama sekali belum percaya terhadap eksistensi Allah maupun eksistensi para Rasul.


Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Rasul


bataranews.com

Sifat wajib bagi rasul adalah sifat yang pasti atau harus dimiliki oleh seorang Rasul Allah.

Syekh Thahir Al-Jaziri dalam kitabnya “Al-Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil ‘Aqidah Al-Islamiyyah” menjelaskan sebagai berikut:

يجب للأنبياء عليهم الصلاة والسلام أربع صفات وهي: الصدق والأمانة والتبليغ والفطانة

Artinya: Wajib bagi para nabi alaihimus shalatu was salam memiliki empat sifat, yakni as-shidqu (jujur), al-amanah (dapat dipercaya), at-tabligh (menyampaikan), dan al-fathanah (cerdas).

Berdasarkan penjelasan di atas, ada 4 sifat wajib beserta sifat mustahilnya yang harus ada pada diri rasul:

1. As-Siddiq

As-Shiddiq artinya benar, segala perbuatan dan perkataan Nabi dan Rasul adalah benar.

Mustahil bila Nabi dan Rasul adalah pembohong.

Karena setiap langkah dan perbuatan para Nabi senantiasa dalam penjagaan Allah SWT, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Makna As-shidqu (jujur) artinya mereka menyampaikan informasi yang sesuai dengan kenyataan dan keadaan sesuatu yang disampaikan.

Maka, sama sekali tidak ada unsur kebohongan dari diri mereka.

Peran Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin dan pembangun kepribadian muslim menjadi teladan bagi semua umat Islam.

Allah melekatkan sifat shiddiq pada diri Rasul sebagai bukti ke-Rasulannya.

2. Amanah

Amanah artinya dapat dipercaya atau terpercaya, mustahil bagi nabi bersifat khianat.

Nabi dan Rasul selalu dapat dipercaya dalam menerima wahyu serta menjaga keutuhan wahyu tersebut kemudian disampaikannya wahyu tersebut kepada umatnya sesuai dengan ketentuan dan kehendak Allah SWT.

Amanah (dipercaya) merupakan sifat yang wajib melekat pada diri rasul sebagai seorang pemimpin.

Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul bersifat amanah dalam hal apapun yang dipercayakan kepadanya meliputi segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun agama.

3. Tabligh

Menurut bahasa, tabligh artinya menyampaikan.

Sementara menurut istilah artinya menyampaikan ajaran-ajaran islam yang diterima dari Allah SWT kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Inti daripada aktivitas tabligh ialah amar ma’ruf nahi munkar (perintah untuk mengajarkan yang baik dan mencegah perbuatan yang keji) serta mengajak beriman kepada Allah SWT.

4. Fathanah

Fathanah artinya cerdas, itu artinya mustahil bagi Nabi dan Rasul tidak mengerti apa-apa atau bodoh.

Allah telah menganugerahkan kepada mereka kecerdasan agar dapat mengajak manusia selalu berada dijalan yang lurus, yaitu jalan yang senantiasa Allah ridhoi.


Sifat Mustahil Bagi Rasul


SIfat-Sifat Rasul
antotunggal.com

Jika sifat wajib adalah sifat yang harus ada pada diri Rasul, sebaliknya sifat mustahil bagi rasul ialah sifat yang mustahil atau tidak mungkin ada pada nabi dan rasul.

Ada 4 sifat mustahil bagi rasul, diantaranya;

1. Kidzib

Kidzib artinya bohong atau berdusta, sifat ini merupakan kebalikan dari sifat shiddiq (jujur).

Sifat kidzib mustahil ada pada diri rasul karena Allah senantiasa menjaga langkah dan perbuatannya.

Shiddiq >< Kidzib

Perbuatan dan ucapan rasul datang dari Allah melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril AS.

Seandainya rasul bersifat kidzib (bohong), maka berita Tuhan tentang pembenaran terhadap para Nabi dan Rasul pun juga bohong.

Termasuk ucapan dan perbuatan para nabi yang selama ini kita dengar dan pelajari.

Pada kenyataannya, kebenaran berita Allah menunjukkan bahwa para Rasul tidak bohong.

Dan pernyataan Tuhan berbohong adalah hal yang tidak masuk akal.

Al-Qur’an menjadi bukti nyata yang isinya tidak pernah meleset, bahkan tidak ada yang bisa mengubahnya walau hanya 1 ayat.

Kesimpulannya adalah Rasul wajib bersifat shiddiq dan mustahil bersifat kidzib.

2. Khianat

Mustahil bagi para Rasul bersifat khianat artinya tidak mungkin Rasul memiliki sifat tidak dapat dipercaya.

Maksud dari sifat khianat adalah menyalahi perintah Allah dan durhaka kepada-Nya.

Nabi dan Rasul adalah manusia terbaik pilihan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-Nya dan menaati segala perintahnya.

Amanah >< Khianat

Bayangkan jika Nabi dan Rasul bersifat khianat, tentunya manusia terbaik pilihan Allah ini akan meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.

Jika rasul khianat, tentu kita sebagai umatnya juga akan diajak untuk mengikuti mereka berbuat dosa dan kemungkaran.

Sebaliknya, Nabi dan Rrasul adalah insan yang bersifat amanah, mereka mengajarkan kita kebaikan dan menghindari dosa.

Rasul mengajarkan kita untuk selalu menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Beliau juga senantiasa menyuruh kita untuk menusuri tauladaninya, sebagaimana firman Allah SWT:

Katakanlah Muhammad; Jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah sunnahku” (QS. Ali Imran : 31)

Sesungguhnya Allah tidak memerintah kepada hal yang keji” (QS. Al A’raaf : 28)

Maka, disimpulkan bahwa Rasulullah SAW wajib bersifat amanah dan mustahil bersifat khianat.

3. Kitman

Kitman artinya menyembunyikan wahyu. Rasul mustahil bersifat kitman maksudnya mustahil bagi rasul menyembunyikan (tidak menyampaikan) wahyu.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa nabi dan rasul adalah manusia pilihan Allah SWT sebagai penyampai risalah kepada umatnya.

Berkaitan dengan itu, Allah berfirman dalam Al-Quran:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati” (QS. Al Baqarah : 159)

Tabligh >< Kitman

Jika para Rasul tidak bersifat tabligh, pasti rasul bersifat kitman atau merahasiakan wahyu Tuhan.

Namun kenyataannya, para Rasul bersifat tabligh atau menyampaikan wahyu yakni ajaran-ajaran Islam yang diterima oleh para rasul lewat perantara malaikat Jibril.

Para rasul senantiasa melakukan tugasnya menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan oleh kita semua agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

4. Baladah

Baladah artinya tidak cerdas dan pelupa. Jika Nabi dan Rasul adalah manusia terbaik pilihan Allah sebagai penyampai agama-Nya, maka mustahil manusia terbaik Allah ini bersifat baladah (bodoh).

Allah telah mengutus Nabi dan Rasul sebagai penyampai agama-Nya kepada umat manusia dan melakukan perbuatan yang amar ma’ruf nahi munkar supaya menjadi suri tauladan untuk umatnya.

Fathanah >< Baladah

Seandainya Nabi dan Rasul bersifat baladah, maka mereka pasti tidak akan mampu menjawab dan menundukkan argumentasi musuh-musuhnya dalam perdebatan.

Para Nabi dan Rasul pasti akan kebingungan atas wahyu dan hukum-hukum yang telah Allah sampaikan.

Mereka juga pasti tidak akan mampu menjelaskan wahyu dan ajaran Allah kepada umat manusia.

Sementara kenyataan telah terbukti, dikisahkan dalam perdebatan dengan musuh-musuhnya mereka mampu mengalahkan mereka.

Ajaran-ajaran mereka yang telah disampaikan kepada umat manusia juga menjadi bukti yang masih bisa disaksikan sampai saat ini.

Bahkan Al-Qur’an sendiri banyak menceritakan kisahnya. Allah berfirman:

وتلك حجتنا ءاتينها ابرهيم على قومه

Artinya: “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya” (QS. Al An’am : 83)

قالوا ينوح قد جدلتنا فاكثرت جدالنا

Artinya: “Mereka berkata: Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu kepada kami” (QS. Hud : 32)

وجدلهم بلتى هي أحسن

Artinya: “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An Nahl : 125)


Sifat Jaiz Bagi Rasul


m.inilah.com

Sifat jaiz yang ada pada diri Rasul merupakan bentuk sifat manusiawi atau اعراض البشرية (A’radhul Basyariyah).

Maksudnya adalah bahwa para Nabi dan Rasul juga memiliki sifat seperti manusia pada umumnya yakni makan, minum, sakit, tidur, buang air kecil, buang air besar, kadang bercanda, kadang bosan, kadang sedih.

Sebagai lelaki, Nabi juga mempunyai rasa tertarik kepada perempuan.

Salah satu sifat jaiz pada Rasul contohnya ialah pada saat Nabi Muhammad SAW pernah ketakutan luar biasa saat pertama kali didatangi malaikat Jibril di Goa Hira.

Saking takutnya, Nabi Muhammad menggigil lalu meminta Khadijah agar diselimuti. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini dalam QS. Al-Muzammil (Orang yang berselimut).

Nabi juga pernah mengalami sakit mata hebat pada usia 7 tahun, yang sangat merepotkan kakek beliau.

Penyakit mata ini menyebabkan matanya merah dan keluar kotoran berwarna kuning kehijauan. Orang kampung menyebut penyakit ini belekan atau rembes.

Sifat dan manusiawi pada diri Rasul tidak akan membuat derajatnya menjadi lebih rendah dan hina.

Justru Allah SWT sengaja mengutus Nabi dan Rasul nya dari jenis manusia untuk menegaskan syariat yang dibawa dan disampaikan memang ditujukan kepada manusia.

Jika Nabi saja bisa menjalankan syariat, maka manusia yang lain juga bisa karena sama-sama manusia.

Memahami sifat jaiz Nabi dan Rasul semacam ini penting untuk memposisikan Nabi/ Rasul secara proporsional.

Namun, akhir-akhir ini kebanyakan orang lupa kalau Nabi punya sifat jaiz bahwa ia juga seorang manusia.


Itu dia penjelasan tentang sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi rasul. Semoga penjelasan ini dapat membantu pertanyaan teman-teman atau menambah wawasan kalian tentang Nabi dan Rasul. Aamiin!

Leave a Comment