hadits tentang niat

Hadits tentang Niat | Niat dalam Hal Baik dan Buruk

Hadits tentang Niat – Niat merupakan kemauan dalam hati untuk melakukan sesuatu. Dimana niat itu sendiri lebih utama daripada amalannya.

Keberkahan serta nilai pahala yang besar terletak pada niat seseorang karena terkadang niat seseorang berbeda dengan amalan yang dia lakukan.


Hadits tentang Niat



Sebenarnya niat itu sendiri sudah termasuk kategori ibadah dan berpahala. Diantara hal yang menyebabkan timbangan amal kebaikan seseorang bertambah dan derajatnya naik di akhirat kelak adalah niat yang ikhlas.

Barangsiapa berniat baik, maka ia akan mendapatkan pahala dari niatnya tersebut meskipun ia belum merealisasikan niatnya tersebut.

Apabila niat baiknya tersebut disertai dengan amalannya maka ia akan mendapatkan dua pahala, yakni pahala dari niatnya dan pahala amalannya.

Oleh karena itu tingkatan niat lebih mendalam daripada amalannya dan apabila keduanya dipadukan maka akan didapat kesempurnaan iman.

Ibnul Qayyim pernah berkata bahwasannya niat merupakan pokok dan tiang segala perkara. Ia juga merupakan pondasi yang terbangun diatas segala perkara.

Sesungguhnya niat adalah ruh dari sebuah amalan, pemimpin, juga pengendalinya. Sedangkan amalan hanya sekedar mengikuti niatnya.

Sebuah amalan menjadi sia-sia dan rusak ketika niatnya rusak dan menjadi sah sesuai keabsahan niatnya. Dengan niatnya tersebut akan didapatkan taufiq dan ketiadaan niat akan mendatangkan kehinaan. Dengan niat juga manusia mendapatkan bertingkat-tingkat derajat di dunia dan akhirat.

Dalil mengenai Niat

Hadits Pertama

إنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقهُ اللهُ عِلْمًا، وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا، وَلَمَ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيرِ عِلْمٍ، لاَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلاَ عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Arti dan Maknanya

Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang : (pertama) Seorang hamba yang Allâh l berikan rezeki berupa harta dan ilmu, kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu. Dia berbuat baik kepada kerabatnya, dan ia mengetahui hak Allâh padanya. Hamba ini berada pada kedudukan terbaik. (Kedua) Seorang hamba yang Allâh beri ilmu namun tidak diberi harta. Orang ini memiliki niat yang baik, dan mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan”.

Dengan niatnya yang baik itu maka pahala keduanya sama. (ketiga) Seorang hamba yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala beri harta namun tidak diberi ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya dalam masalah harta itu, tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan tidak mengetahui hak Allâh pada harta itu. Hamba ini berada pada kedudukan yang terburuk. (Keempat) Dan seorang hamba yang Allâh tidak memberinya harta maupun ilmu, kemudian dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (orang ketiga)”. Maka dengan niatnya itu maka keduanya mendapatkan dosa yang sama. [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Penjelasan mengenai hadits diatas berkaitan dengan orang kedua yang diberi ilmu, tapi tidak diberi harta. Dimana ia mendapatkan pahala sebagaimana orang pertama karena ia memiliki niat jujur dan tekad kuat untuk melakukan amalan orang pertama seandainya ia memiliki harta. Ini menunjukkan bahwa niat itu lebih penting daripada sekedar amalan.

Hadits Kedua

Sesungguhnya suatu perbuatan akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla jika memenuhi dua syarat, yakni niat ikhlas dan mengikuti Sunnah Rasul.

Maka dari itu, Allah akan melihat isi hati manusia, apakah ia ikhlas dalam niatnya dan melihat amalannya apakah sesuai dengan yang dituntunkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi Dia melihat hati kamu dan amal kamu. [HR. Muslim, no. 2564]

Niat dalam Hal Buruk

hadits tentang niat
image source: yoga-ps.com

Keinginan yang yang terlintas dalam hati untuk berbuat keburukan belum tercatat sebagai dosa oleh Allah Azza wa Jalla. Berbeda ketika pikiran tersebut sudah menjadi tekad kuat dan niat yang gigih apalagi sudah diusahakan, meski tidak terjadi tapi pelakunya sudah mendapat dosa.

Kedudukan niat yang sangat penting juga dapat dilihat dari akibat yang dihasilkan olehnya. Hanya sekedar niat seseorang sudah mendapatkan pahala maupun siksa.

Artinya seseorang akan diberi pahala maupun siksaan karena keinginan di dalam hatinya yang tetap kuat meskipun ia belum mampu melaksanakannya. Walaupun dia belum atau tidak mampu melakukannya, tapi dia mampu untuk sekedar mengharapkannya.

Niat baik tidak akan merubah sebuah kemaksiatan menjadi ketaatan. Keterangan ini menunjukkan pentingnya kedudukan niat.

Untuk itu, seorang muslim yang baik selalu membangun seluruh amalannya di atas niat yang baik, yakni atas keikhlasan dan mengharap ridha Allah.

Sebagai seorang muslim kita akan selalu berusaha beramal berdasarkan Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Itulah kelengkapan dari niat yang baik karena semata-mata niat yang baik tidak bisa merubah kemaksiatan menjadi ketaatan.

Contohnya, seperti seseorang bersedekah dari uang hasil curian maupun korupsi layaknya kisah Robin Hood. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُوْلٍ

Tidak akan diterima shalat dengan tanpa bersuci dan tidak akan diterima shadaqah dari (hasil) ghulul (khianat). [HR. Muslim, no. 224]

Jadi, walaupun pada dasarnya amalan tersebut merupakan sebuah kebaikan dan dilakukan dengan niat yang baik, tapi tidak memenuhi syarat-syarat di dalam agama. niat baik tersebut tidak akan pernah merubah amalan yang dilakukannya menjadi ketaatan.

Keywords: hadits tentang niat

Leave a Comment