Bacaan Tahiyat Akhir yang Shahih dan Cara Duduknya

Bacaan tahiyat akhir dibaca pada saat gerakan shalat sebelum salam, yaitu gerakan tasyahud akhir.

Tasyahud akhir adalah gerakan shalat penutup sebelum gerakan salam.

Dinamakan tahiyat atau at-tahiyat akhir karena memang dilakukan di rakaat terakhir shalat dan juga sebagai penutup.


Bacaan Tahiyat Akhir


Di dalam shalat terdapat dua gerakan tahiyat, yaitu tahiyat awal dan tahiyat akhir. Semua waktu shalat wajib (fardu) memiliki dua tahiyat, kecuali waktu shalat subuh.

Pada kedua tahiyat tersebut terdapat beberapa perbedaan, baik dalam gerakan maupun bacaan.

Tidak hanya itu pemahaman mengenai posisi serta bacaan tasyahud akhir memiliki perbedaan antar para ulama.

Cara Duduk Tasyahud Akhir

Pertama-tama akan kita bahas mengenai posisi duduk dalam tasyahud atau tahiyat akhir. Para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam posisi duduk tasyahud akhir.

Sebagian ulama berpendapat duduk tasyahud akhir dilakukan menggunakan posisi duduk iftirasy atau duduk diantara kedua sujud.

Adapula yang berpendapat bahwa tahiyat akhir menggunakan sikap duduk tawarruk.

Lalu apa itu posisi duduk iftirasy dan posisi duduk tawarruk? Alangkah lebih baik bila kita mengetahui bagaimana perbedaan antara kedua posisi duduk yang diperdebatkan ini.

  • Duduk Iftirasy

Iftirasy memiliki arti membentangkan yang berasal dari kata farasya.

Posisi duduk ini dilakukan dengan sikap duduk beralaskan telapak kaki sebelah kiri (pantat menduduki kaki) dan menegakkan kaki sebelah kanan.

Seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Humaid as sa’idi ra:

جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.”

  • Duduk Tawarruk

Berasal dari kata al warik tawarruk berarti pangkal paha. Sikap duduk ini bertumpu pada pangkal paha.

Dimana seseorang duduk dengan menjadikan pangkal paha bagian kirinya sebagai sandaran.

Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Mas’ud ra:

وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di akhir beliau duduk dengan pangkal paha kirinya.” [HR. Ahmad]

Pada riwayat lain Abu Humaid as Sa’idi ra berkata:

وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِه

“(ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk di rakaat terakhir beliau mengeluarkan kaki kirinya. Menegakkan kaki yang lain (kanannya) kemudian duduk pada tempatnya.” [HR Bukhari]

Posisi Duduk Tasyahud Akhir

Pendapat para ulama dalam hal ini berbeda beda.

  • Mahdzab Hanafiyyah

Ada yang berpendapat bahwa pada raka’at terakhir duduk tasyahud akhir dilakukan dengan duduk iftirasy. Mahdzab Hanafiyyah memegang pendapat ini.

Mahdzab ini berpendapat bahwa semua duduk dalam shalat di setiap rakaat dilakukan dengan cara duduk iftirasy termasuk tasyahud akhir.

Mereka berpegang pada hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma tentang sifat shalat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata:

وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” [HR Muslim]

  • Mahdzab Maliki

Mahdzab Maliki memiliki pendapat yang berkebalikan dengan mahdzab Hanafi.

Mereka berpendapat jika semua duduk dalam shalat memakai duduk tawarruk seperti halnya duduk pada saat tasyahud akhir.

Imam Malik rahimahullah berkata, “ sikap duduk diantara dua sujud sama dengan duduk tasyahud. Caranya meletakkan pantat (sebelah kiri) di atas tanah, menegakkan kaki kanannya, serta mengeluarkan kaki kirinya.”

  • Mahdzab Syafii

Sedangkan mahdzab Syafi’i mengatakan bahwa duduk tasyahud akhir dilakukan dengan cara tawarruk sedangkan selain tahiyat akhir dilakukan dengan cara iftirasy.

Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Humaid as Saidi ra, yang artinya:

Akulah yang paling hafal shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam duduk pada raka’at kedua, (maka) beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Kemudian ketika duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya, menegakkan kaki kanannya kemudian duduk diatas tempatnya.”

  • Mahdzab Hambali

Imam Ahmad bin Hanbal pun memiliki pendapat lain yang juga berbeda. Beliau berpendapat kalau duduk tawarruk hanya dilakukan dalam shalat yang terhdapat dua tasyahud saja.

Adapun shalat yang hanya memiliki satu tasyahud (subuh) maka duduknya adalah iftirasy.

Manakah pendapat yang lebih kuat dari keempat pendapat diatas? Imam Syafi’i rahimahullah mengemukakan pendapat yang paling mendekati kebenaran.

Alasannya karena dalil yang digunakan lebih jelas dalam menggambarkan cara duduknya.

Selain itu hadits dari Abu Humaid yang menjadi pegangan mahdzab syafi’i menjelaskan duduk mana saja yang iftirasy dan mana yang tawarruk.

Jadi, posisi tasyahud akhir yang benar adalah duduk dengan sikap duduk tawarruk. Meletakkan kedua tangan diatas kedua lutut.

Menjulurkan jari-jari tangan kiri sedangkan tangan kanan menggenggam dengan jari telunjuk diacungkan. Sentuhkan ibu jari atau jempol pada jari tengah.


Bacaan Tahiyat Akhir


Dan bacalah tasyahud begini:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Attahiyyaatu lillaah washshalawaatu waththayyibaat, assalaamu’alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu’alaina wa ‘alaa’ibaadillaahish shaalihin. Asyhadu allaailaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh.

Lalu bacalah shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَ آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَ آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibrahiim wa aali Ibraahim. Wa baarik ‘alaa Muhammad wa aalii Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim wa aali Ibraahim. Innaka hamiidum majiid.

Bacaan Doa Tahiyat Akhir

Kemudian berdoalah kepada tuhanmu sekehendakmu, tapi lebih pendek daripada doa dalam tasyahud akhir. Doa yang biasa dibaca saat tahiyat akhir adalah doa memohon perlindungan, seperti dibawah ini:

Allaahummma innii a’udzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil qabri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarri fitnatil masiihid dajjal.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa (api) neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan (tipuan) Al Masih Ad Dajjal.”

Doa tersebut juga disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim. Setelah membaca doa diatas bisa dilanjutkan dengan membaca doa apapun yang diinginkan. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بِمَا بَدَا لَهُ

“Jika salah seorang diantara kalian bertasyahud, maka mintalah perlindungan pada Allah dari empat perkara. Siksa jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan Al Masih ada Dajjal. Kemudian hendaklah ia berdoa untuk dirinya sendiri dengan doa apa saja yang dia inginkan.” [HR AN Nasai dan dishahihkan oleh syekh Al Albani]

Perlu diperhatikan jika shalat berisi dua rakaat, maka bacalah doa isti’adzah (mohon perlindungan) setelah membaca shalawat kepada Nabi pada rakaat kedua. Kemudian bersalamlah.

Demikian penjelasan kami mengenai Bacaan Tahiyat Akhir yang Shahih dan Cara Duduknya. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment